Lompat ke konten

Gerakan Non-Blok

Non-Aligned Movement (NAM) NAM atau Non-Aligned Movement didirikan pada Konferensi Beograd 1961 sebagai gerakan negara-negara yang tidak memihak blok Barat maupun blok Timur selama Perang Dingin
Hukum Internasional NAM Non-Aligned Movement gerakan non-blok politik luar negeri bebas aktif
Diperbarui 5 September 2026
Ringkasan

Apa itu Gerakan Non-Blok?

Gerakan Non-Blok (NAM) adalah organisasi negara-negara yang menganut kebijakan tidak memihak blok kekuatan dunia manapun.

Non-Aligned Movement (NAM) NAM atau Non-Aligned Movement didirikan pada Konferensi Beograd 1961 sebagai gerakan negara-negara yang tidak memihak blok Barat maupun blok Timur selama Perang Dingin Hukum Internasional

Definisi

Gerakan Non-Blok, atau Non-Aligned Movement (NAM), adalah organisasi internasional yang beranggotakan negara-negara yang secara resmi menganut kebijakan tidak memihak pada blok kekuatan dunia manapun dalam politik internasional. Gerakan ini bukan aliansi militer seperti NATO, dan bukan pula organisasi ekonomi seperti Uni Eropa — sifatnya lebih ke forum politik yang menyatukan negara berdasarkan kesamaan prinsip, terutama penolakan terhadap keterlibatan dalam blok kekuatan besar yang saling bersaing.

NAM didirikan pada Konferensi Tingkat Tinggi I di Beograd, Yugoslavia, tahun 1961, oleh para pemimpin yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendiri gerakan ini: Josip Broz Tito dari Yugoslavia, Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdel Nasser dari Mesir, Kwame Nkrumah dari Ghana, dan Sukarno dari Indonesia. Kelima pemimpin ini punya latar belakang sejarah yang mirip — negara mereka baru merdeka atau baru lepas dari pengaruh kolonial, dan enggan diseret masuk ke pertarungan ideologi antara blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan blok Timur pimpinan Uni Soviet.

Bagi generasi yang tumbuh setelah Perang Dingin berakhir, NAM kadang terasa seperti “organisasi masa lalu” yang relevansinya diragukan. Namun forum ini tetap aktif hingga sekarang dan menjadi salah satu wadah terbesar bagi negara berkembang untuk menyuarakan kepentingan bersama di panggung dunia, dengan keanggotaan lebih dari 120 negara.

Dasar Hukum

NAM tidak lahir dari satu perjanjian internasional formal layaknya organisasi seperti PBB atau WTO, melainkan dari deklarasi politik bersama para pemimpin pendirinya. Prinsip-prinsip dasarnya bersumber dari Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang dihasilkan Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955, meliputi penghormatan kedaulatan dan integritas wilayah semua bangsa, non-agresi, tidak campur tangan urusan dalam negeri negara lain, kesetaraan, dan koeksistensi damai antar bangsa dengan sistem politik berbeda.

Bagi Indonesia, keikutsertaan dalam NAM sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dan diatur lebih lanjut lewat UU No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Pasal 3 undang-undang ini menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia bebas aktif — tidak memihak salah satu kekuatan dunia, sekaligus aktif turut menciptakan perdamaian dunia, bukan sekadar netral pasif menonton dari pinggir.

Sejarah dan Latar Belakang

NAM lahir dalam konteks Perang Dingin sebagai alternatif bagi negara-negara, terutama bekas jajahan yang baru merdeka, yang menolak terikat pada blok Barat (NATO dan sekutunya) maupun blok Timur (Pakta Warsawa dan Uni Soviet). Para pendirinya khawatir jika negara-negara berkembang dipaksa memilih salah satu kubu, mereka akan kehilangan kemerdekaan sikap dalam kebijakan luar negerinya sendiri dan justru menjadi medan pertarungan proksi kedua adikuasa.

Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955, yang dihadiri 29 negara Asia dan Afrika, dianggap sebagai cikal bakal semangat NAM meski gerakan formalnya baru terbentuk enam tahun kemudian di Beograd. Semangat solidaritas negara berkembang yang lahir di Bandung inilah yang kemudian menjadi fondasi ideologis NAM hingga sekarang, jauh melampaui konteks Perang Dingin yang sudah berakhir sejak 1991.

Peran Indonesia

Indonesia memiliki peran historis yang sangat penting dalam kelahiran dan perkembangan NAM. Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955 yang menjadi cikal bakal gerakan ini diselenggarakan di Indonesia dan dipelopori Sukarno sebagai salah satu tokoh sentralnya. Indonesia juga pernah menjadi Ketua NAM pada periode 1992 hingga 1995 di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, dengan KTT NAM ke-10 diselenggarakan di Jakarta pada 1992, yang saat itu menghasilkan Pesan Jakarta (Jakarta Message) mengenai kerja sama Selatan-Selatan.

Hingga sekarang, Indonesia terus aktif dalam forum NAM sebagai bagian dari strategi diplomasi multiarah, memanfaatkan gerakan ini sebagai salah satu saluran untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang di isu-isu global seperti reformasi tata kelola ekonomi dunia dan keadilan dalam perdagangan internasional, sejalan dengan keterlibatan Indonesia di forum-forum lain seperti G20 dan ASEAN.

Contoh Kasus

Pada KTT NAM di Jakarta tahun 1992, Indonesia sebagai ketua gerakan mempromosikan konsep kerja sama Selatan-Selatan, yakni kolaborasi ekonomi dan teknis antar negara berkembang tanpa harus selalu bergantung pada negara maju. Indonesia menggunakan forum ini untuk menyuarakan kepentingan bersama negara berkembang dalam isu-isu seperti reformasi PBB agar lebih representatif, keadilan ekonomi internasional, dan dukungan terhadap penghapusan sisa-sisa kolonialisme di berbagai belahan dunia.

Peran Indonesia dalam NAM mencerminkan bagaimana politik luar negeri bebas aktif diterjemahkan secara konkret: bukan sekadar slogan diplomatik, melainkan keterlibatan aktif dalam membangun solidaritas antar negara berkembang, sambil tetap menjaga hubungan baik dengan kekuatan-kekuatan besar dunia tanpa terikat aliansi militer atau ideologi tertentu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah NAM masih relevan setelah Perang Dingin berakhir? Masih. Meski konteks awalnya adalah menghindari blok Barat-Timur, NAM tetap berfungsi sebagai forum solidaritas negara berkembang untuk isu-isu seperti ketimpangan ekonomi global dan reformasi tata kelola dunia.

Apa beda NAM dengan G20? NAM adalah forum politik solidaritas negara berkembang yang berbasis prinsip tidak memihak, sedangkan G20 adalah forum ekonomi yang menghimpun negara dengan perekonomian terbesar di dunia, termasuk negara maju dan berkembang sekaligus.

Apakah Indonesia wajib mengikuti sikap resmi NAM dalam politik luar negerinya? Tidak. NAM adalah forum solidaritas, bukan organisasi supranasional yang mengikat anggotanya secara hukum. Indonesia tetap menentukan kebijakan luar negerinya sendiri berdasarkan kepentingan nasional dan prinsip bebas aktif.

Siapa saja tokoh pendiri NAM? Lima tokoh yang paling dikenal sebagai pendiri NAM adalah Josip Broz Tito (Yugoslavia), Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Kwame Nkrumah (Ghana), dan Sukarno (Indonesia).

Apakah NAM punya markas atau sekretariat tetap seperti PBB? Tidak. NAM tidak memiliki sekretariat permanen seperti PBB; kepemimpinannya berpindah ke negara tuan rumah KTT terbaru, dan koordinasi antar anggota dilakukan lewat jalur diplomatik biasa.

Dasar Hukum

Pembukaan UUD 1945 Alinea Pertama

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Pasal 3 UU No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri

Politik Luar Negeri menganut prinsip bebas aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional. Politik Luar Negeri yang bebas aktif berarti tidak memihak pada salah satu kekuatan dunia dan turut aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Pertanyaan Umum

Apa itu Gerakan Non-Blok? +
Gerakan Non-Blok (NAM) adalah organisasi negara-negara yang menganut kebijakan tidak memihak blok kekuatan dunia manapun.
Apa bahasa Inggris dari Gerakan Non-Blok? +
Gerakan Non-Blok dalam bahasa Inggris disebut Non-Aligned Movement (NAM).
Apa dasar hukum Gerakan Non-Blok? +
Dasar hukum Gerakan Non-Blok diatur dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea Pertama, Pasal 3 UU No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
Apa asal kata Gerakan Non-Blok? +
NAM atau Non-Aligned Movement didirikan pada Konferensi Beograd 1961 sebagai gerakan negara-negara yang tidak memihak blok Barat maupun blok Timur selama Perang Dingin

Istilah Terkait